Sederet Harga Barang Bakal Lebih Mahal Imbas Perang Iran Israel Tak Kunjung Selesai

 

Dalam foto yang dirilis pada hari Rabu, 2 Agustus 2023 oleh Sepahnews dari Garda Revolusi Iran, speedboat Garda berpartisipasi dalam latihan di Teluk Persia. Perang Iran Israel yang juga melibatkan Amerika dinilai memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. (Sepahnews via AP)

 

Konflik Iran–Israel Berpotensi Picu Kenaikan Harga Sejumlah Barang

faktahariini24 , Jakarta – Konflik yang melibatkan Iran dan Israel, serta ikut menyeret United States, dinilai dapat memicu dampak besar terhadap perekonomian global. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pada sektor energi, tetapi juga berpotensi membuat berbagai harga barang di pasar meningkat, termasuk pupuk, produk elektronik, dan barang impor.

Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Muhammad Sholahuddin, menjelaskan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah memiliki pengaruh strategis terhadap distribusi energi dunia, terutama karena berkaitan dengan jalur pelayaran penting di Strait of Hormuz.

Menurutnya, hampir 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Ketika situasi geopolitik memanas, risiko gangguan terhadap distribusi minyak akan meningkat dan berpotensi mendorong lonjakan harga energi di pasar dunia.

“Ketegangan di sekitar Selat Hormuz bisa berdampak besar karena jalur itu dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Indonesia Rentan Dampak Harga Energi

Sholahuddin menilai Indonesia juga akan merasakan dampak dari kenaikan harga energi global. Pasalnya, sekitar separuh kebutuhan minyak nasional masih bergantung pada impor.

Jika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak dunia diperkirakan akan naik. Kondisi tersebut akan memicu kenaikan biaya transportasi, distribusi barang, serta biaya logistik secara keseluruhan.

“Ketika harga minyak meningkat, efeknya akan merembet ke berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga harga barang di pasaran,” jelasnya.

Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan CEO perusahaan pelayaran global Maersk, Vincent Clerc. Ia menyebutkan bahwa kenaikan biaya bahan bakar akibat konflik akan diteruskan kepada pelanggan perusahaan dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Sejak konflik meningkat, harga minyak dunia sempat melonjak mendekati 120 dolar AS per barel sebelum kemudian sedikit mereda. Secara keseluruhan, harga minyak tercatat hampir 20 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.

Bisnis utama Maersk sendiri berada pada sektor pengiriman kontainer yang berperan penting dalam distribusi berbagai produk global, seperti pakaian, mainan, hingga perangkat elektronik. Gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz membuat aktivitas pengiriman tersebut ikut terdampak.

Masyarakat Berpenghasilan Rendah Paling Terpukul

Sholahuddin menilai kelompok masyarakat berpenghasilan rendah berpotensi menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga barang. Hal ini disebabkan meningkatnya biaya logistik dan asuransi risiko perang yang pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari.

“Gangguan energi global akan meningkatkan biaya distribusi dan premi asuransi. Dampaknya akan terasa pada harga barang dan paling dirasakan masyarakat kelas bawah,” katanya.

Momentum Perkuat Kemandirian Energi

Meski membawa tantangan, situasi ini juga dinilai bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Salah satu langkah penting adalah mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.

Sholahuddin juga mendorong pengembangan energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga surya, yang dinilai cocok dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari melimpah.

“Pemanfaatan energi surya bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbasis minyak,” ujarnya.

Risiko Perang Dunia Ketiga Dinilai Masih Kecil

Terkait kekhawatiran terjadinya perang dunia ketiga, Sholahuddin menilai kemungkinan tersebut masih relatif kecil selama konflik tidak meluas dan tetap terbatas pada beberapa negara saja.

Namun demikian, ia menilai situasi global tetap perlu diwaspadai jika ketegangan semakin melibatkan lebih banyak negara.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan fokus memperkuat ekonomi domestik serta mendorong inovasi dari dunia akademik untuk mendukung kemandirian ekonomi nasional.

#Iran #Israel #IranVsIsrael #PerangIranIsrael #MiddleEastWar #KonflikTimurTengah #HargaBarangNaik #HargaPanganNaik #HargaMinyakDunia #InflasiGlobal #EkonomiDunia #DampakPerang #KrisisEkonomi #HargaBBM #HargaPangan #EkonomiIndonesia #BeritaEkonomi #WorldNews #BreakingNews #TrendingNews #ViralNews #UpdateDunia #FYP #FYPシ #ForYou #ForYouPage #Trending #Viral

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama