Dalam keterangan resminya, IRGC menyebutkan bahwa sejumlah rudal balistik diluncurkan, termasuk Qadr, Emad, Kheibar-Shekan, dan Fattah. Serangan itu diklaim menyasar lebih dari 50 titik di wilayah Israel, di antaranya di Tel Aviv, Jerusalem, dan Haifa.
Selain itu, beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga disebut menjadi target, termasuk Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania dan Pangkalan Udara Al-Kharj di Arab Saudi.
Hizbullah Luncurkan Serangan Roket
Secara bersamaan, Hezbollah mengumumkan operasi yang mereka sebut “Devoured Straw”. Dalam operasi tersebut, kelompok itu mengklaim menembakkan lebih dari 100 roket ke wilayah utara Israel.
Dalam pernyataannya, Hezbollah mengatakan media Israel melaporkan adanya peningkatan signifikan peluncuran rudal dari Iran ke Israel dalam 24 jam terakhir, yang juga disertai bertambahnya korban.
Kelompok tersebut juga menyebut situasi keamanan membuat banyak warga Israel harus berulang kali berlindung di bunker karena sirene peringatan yang terus berbunyi.
IRGC menegaskan bahwa serangan dalam rangkaian operasi tersebut masih akan terus berlanjut.
Gelombang ke-39 Targetkan Pangkalan AS
Sebelumnya pada hari yang sama, IRGC juga mengumumkan pelaksanaan gelombang ke-39 dari operasi yang sama. Serangan itu disebut sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurut IRGC, operasi tersebut dilaksanakan untuk menghormati para korban dari pihak Iran, termasuk tokoh yang mereka sebut sebagai Martir Amir Mousavi.
Serangan pada tahap ini menggunakan berbagai jenis rudal balistik seperti Qadr dengan hulu ledak ganda, Khorramshahr, dan Emad. Targetnya disebut mencakup posisi militer Amerika Serikat di wilayah Teluk.
Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim serangan tersebut berhasil mengenai sasaran dan menimbulkan dampak besar terhadap fasilitas militer yang dituju.
Ketegangan di Selat Hormuz
IRGC juga menegaskan bahwa Strait of Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia, tetap berada di bawah pengawasan angkatan laut Iran.
Mereka memperingatkan bahwa pihak yang dianggap sebagai agresor, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya, tidak memiliki hak untuk melintas di wilayah tersebut.
Operasi militer yang dinamai True Promise 4 ini disebut telah berlangsung selama sekitar 11 hari dan terus meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.